
PPPK berlanjut 2026 belanja pegawai ideal menjadi kabar penting bagi tenaga honorer dan ASN karena Kemendagri memastikan anggaran daerah tetap mampu membiayai pegawai tanpa mengganggu stabilitas fiskal.
Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri menegaskan, alokasi anggaran pegawai, termasuk PPPK, telah disiapkan secara memadai dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Agus Fatoni menyampaikan hal tersebut saat menghadiri rapat koordinasi bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena di kantor gubernur NTT. Kegiatan ini turut dihadiri para bupati dan wali kota se-NTT.
Berdasarkan data APBD NTT Tahun Anggaran 2026, belanja daerah mencapai Rp 5,31 triliun. Dari jumlah tersebut, belanja pegawai tercatat sebesar Rp 2,72 triliun.
Angka tersebut mencakup kebutuhan PPPK penuh waktu sebanyak 12.380 orang dengan alokasi anggaran Rp 813,91 miliar. Setelah komponen belanja dan tunjangan guru dikeluarkan, proporsi belanja pegawai berada pada kisaran 40,29%.
Fatoni menegaskan seluruh kebutuhan belanja pegawai telah teralokasi dan mencukupi, termasuk untuk PPPK. “Anggaran telah disiapkan dengan baik. Kami memastikan PPPK tetap aman dan hak aparatur terpenuhi, sembari mendorong efisiensi agar proporsi belanja pegawai sesuai ketentuan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga menyerahkan surat keputusan (SK) kepada 4.536 PPPK paruh waktu sebagai bagian dari penataan tenaga non-ASN. Selain itu, Kemendagri mendorong penguatan fiskal daerah melalui dua strategi utama, yakni pengendalian belanja pegawai dan peningkatan pendapatan daerah.
Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi pajak dan retribusi, peningkatan kinerja BUMD, pemanfaatan aset daerah, serta penguatan peran badan layanan umum daerah (BLUD).
Pemerintah daerah juga didorong memanfaatkan sumber pembiayaan alternatif, seperti kerja sama dengan kementerian/lembaga, corporate social responsibility (CSR), serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Fatoni menambahkan, pengendalian belanja pegawai menjadi kunci menjaga keberlanjutan fiskal tanpa mengorbankan kualitas pelayanan publik.
“Dalam jangka pendek, pemerintah daerah diarahkan melakukan realokasi belanja, termasuk pengurangan perjalanan dinas, efisiensi belanja operasional, serta pengetatan belanja pendukung yang belum mendesak,” jelasnya.
Bukti skor dan kelulusan klien klien yang telah berhasil kami bantu kursus persiapan CPNS 2014 – 2024 dan CPPPK 2020 – 2023, FHCI BUMN, PCPM BI, PCS OJK RI, LPS RI dan lainnya bisa dicek di akun instagram @kelas_BahasaID


